Memenuhi Kebutuhan Belajar PAI dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Penulis : Choirul Hidayah, S.Ag

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)

SMK Negeri 2 Sukoharjo

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Namun hal ini bukan berarti jika di kelas itu ada dua puluh lima murid, seorang guru harus menggunakan dua puluh lima metode juga. Bukan pula mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar, yang kurang dengan yang kurang. Atau memberikan tingkat soal yang lebih sulit atau lebih banyak kepada murid yang lebih cepat mengerjakan. Guru juga bukan seorang Superman yang harus berlari ke Rina kemudian Rini dan kemudian Rita untuk membantu belajar mereka dalam waktu yang bersamaaan. Namun, Pembelajaran Berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

Hal inilah yang telah saya praktikkan di kelas XII TKRO.A  SMK Negeri 2 Sukoharjo ketika menyampaikan materi Mengevaluasi Pernikahan dalam Islam sub tema Married by Accident (MBA). Saya mencoba menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi dengan fokus berdiferensiasi konten dan produk. Dalam diferensiasi konten, saya mengelompokkan siswa berdasarkan minat belajar mereka ketika saat berdisdusi membahas dampak negatif MBA. Praktik diferensiasi dilakukan dengan memberi kebebasan kepada siswa untuk memilih materi diskusi sesuai dengan minat mereka apakah memilih dampak negatif MBA dari aspek ekonomi, psikologis, sosial atau kesehatan. Sedangkan praktik diferensiasi produk dengan cara memberikan tugas mandiri dalam bentuk membuat karya bebas tentang Dampak Negatif MBA dalam berbagai pilihan apakah dalam bentuk Video, Infografis, Artikel, Main Mapping dan lain-lain sesuai minat masing-masing siswa.

Hal itu ternyata menarik bagi siswa kelas XII TKRO.A, terbukti mereka sangat antusias mengikuti pembelajaran saat itu. Suasana kelas menjadi hidup, diskusi kelompok menjadi lebih berkualitas dengan tingkat keaktifan anggota yang luar biasa karena telah memilih topik diskusi sesuai dengan minatnya sendiri. Bahkan, waktu berjalan sangat cepat, 3 JP terasa hanya sebentar. Hasil penugasan juga terlihat berdiferensiasi. Ada yang membuat infografis, ada yang membuat video di Tik Tok, ada yang membuat kliping dari barang bekas, dan ada yang dalam bentuk Power Point.

Hal tersebut membuat saya semakin semangat untuk menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi pada kelas-kelas yang lainnya.  Apalagi ketika sesi refleksi, anak-anak merasa senang, puas dengan proses pembelajaran model ini karena ada unsur diferensiasi di dalamnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Pembelajaran Berdiferensiasi merupakansalah satu upaya memenuhi kebutuhan belajar murid, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan tidak menutup kemungkinan mata pelajaran lainnya sebagai salah satu cara mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Leave a Reply